My Great Web page

Sabtu, 17 Desember 2011

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET


A.   TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET
Jean Piaget(1896-1980), adalah pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.
1.    Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada.
Contoh: Seorang anak 7 tahun dihadapkan dengan palu dan paku untuk memasang gambar di dinding. Ia mengetahui dari pengamatan bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang dan diayunkan untuk memukul paku. Dengan mengenal kedua benda ini, ia menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran yang sudah ada (asimilasi).
2.    akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.
Contoh: Akan tetapi karena palu terlalu berat dan ia mengayunkannya dengan keras maka paku tersebut bengkok, sehingga ia kemudian mengatur tekanan pukulannya. Penyesuaian kemampuan untuk sedikit mengubah konsep disebut (akomodasi).

a.    Prinsip Dasar Teori Piaget
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis (perkembangan jiwa).
1.    Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan.
Contoh: Manusia tidak mempunyai bulu lebat seperti kera untuk melindunginya dari suhu dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk TRANSPORTASI


b.   Tahap-Tahap Perkembangan
Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang berbeda.
1.    Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Tahap Sensorimotor merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
2.    Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahap Praoperasional merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.
a.    Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif oranglain dengan kata lain anak melihat sesuatu hanya dari sisi dirinya.
b.    Animisme adalah keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak memiliki kualiatas semacam kehidupan dan dapat bertindak. Seperti sorang anak yang mengatakan, “Pohon itu bergoyang-goyang mendorong daunnya dan daunnya jatuh.”
c.     Intuitif adalah anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin mengetahui jawaban atas semua bentuk pertanyaan. Mereka mengatakan mengetahui sesuatu tetapi mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional.

3.    Tahap operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
Tahap Operasional Konkrit merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
Terdapat beberapa proses-proses penting dalam tahap operasional kongkrit antara lain:
PengurutanKemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda yang berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke benda yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
4.    Tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Tahap Operasional Formal merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.


B.   TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF LEV VYGOTSKY
Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam situasi mengenal poin penting tentang pikiran anak lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.
Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Sofiet selama sepuluh tahun dari tahun 1920-1930. Namun karyanya baru dipublikasikan diduia barat pada tahun 1960an. Sejak saat itulah, tulisan-tulasannya menjadi sangat berpengaruh didunia. Vygotsky juga mengagumi Piaget , Vigotsky setuju dengan teori Piaget bahwa perkembangan kognitiv terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, akan tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambara realitasya sendirian, karena menurut Vygotsky suatu pengetahuan tidak hanya didapat oleh anak itu sendiri melainkan mendapat bantuan dari lingkungannya juga. 
1.    Ide Utama Teori vygotsky
a.    Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
b.    Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual.
c.     Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan alam dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Tiga, merka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses didalam sistem memori otak.
Para ahli psikologi kognitif menyebut informasi dan pengalaman yang disimpan dalam memori jangka panjang dalam pengetahuan awal. Pengetahuan awal (prior knowlege) merupakan kumpulan dari pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawah kepada suatu pengalaman baru.
Menurut teori Peaget Perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif dilingkungan sekolah. Tapi Vygotsky tidak sependapat dengan Peaget, Vygotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat disekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari disekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya. 
Banyak developmentalis yang bekerja dibidang kebudayaan dan pembangunan yang sepaham dengan teori Vygotsky, yang berfokus pada konteks pembangunan social budaya. Teory Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran yang melibatkan pembelajaran yang menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, system matematika dan alat-alat ingatan. Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan kognitif dari pada Peaget. Bagi Peaget bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. pengalaman bahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Pada kenyatannya, Kebanyakan anak-anak diajari bahasa sejak usia yang sangat mudah. Bahkan saat anak mulai bisa melihat dunia. Kita perlu mengenalkan bahasa sejak dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik. Para pakar perilaku memandang bahasa sama dengan perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kalimat yang kita hasilkan adalah baru, kita tidak mendengar atau membicarakan sebelumnya. Kita tidak membicarakan bahasa didalam suatu ruang hampa sosial, kita memerlukan pengenalan bahasa yang lebih dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik.
kebanyakan peneliti bahasa yakin bahwa anak-anak dari berbagai konteks social yang luas menguasai bahasa dari ibu mereka tanpa diajarkan secara khusus. Seperti halnya saat anak menangis, menangis merupakan bahasa anak saat meraka belum bisa berbicara, menangis dijadikan sebagai bahasa mereka saat mereka menginginkan sesuatu. Walaupun begitu proses pembelajaran bahasa biasanya memerlukan lebih banyak dukungan dan keterlibatan dari pengasuh dan guru. Karena dari lingkungan juga mereka akan dapat tambahan kosakata. Suatu lingkungan juga yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak. Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lngkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini itu lebih penting. Karena bahasa berfungsi sebagai komunikasi. Dan suatu komunikasih itu digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah.
Vygotsky juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil didalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan sosial didalam perkembangan kognitif berbeda dengan teori Peaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian. Karena Peaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual. Sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak anak lain dalam memuahkan perkembangan si anak..Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relative dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun,anak-anak tidak banyak meiliki fungsi mental yang lebih tinggi. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Vygotsky juga menekankan baik levelkonteks sosial yang bersifat inter personal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalu instuisi seperti sekolah, penemuan seperti computer. Interaksi intuisional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan social yang luas untuk membimbing hidupnya.level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada kefungsian mental anak. Menurut Vygotsky keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi social langsung. Melalui pengoranisasian pengalaman-pengalaman interaksi social yang berada dalam suatu latar belakang kebudayaan ini. Perkembangan anak menjadi matang.

III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Jean Piaget (1896-1980), adalah pakar Psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda:
1.      Struktur
2.      Isi
3.      Fungsi
Teori Vgotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya.

B.    SARAN
Diharapkan agar kedepannya makalah ini dapat lebih disempurnakan lagi, agar dapat memeberikan informasi yang lebih terperinci bagi orang-orang khususnya mahasiswa yang membutuhkan.

Dari berbagai sumber 
»»  READMORE...

Sabtu, 10 Desember 2011

contoh makalah Profesionalitas GURU


PERLUKAH PROFESIONALITAS  SEORANG  GURU DIUKUR DENGAN RUPIAH
Karsam Sunaryo

Abstrak
Pentingnya profesionalitas bagi guru dalam peningkatan mutu pendidikan nasional merupakan sesuatu yang harus diutamakan. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru merupakan persyaratan dalam mengikuti program sertifikasi. Kompetensi guru adalah profesionalitas dalam tiga hal atau sering disebut ASK. Tiga hal tersebut adalah  Attitude (sikap), Skill (keahlian), Knowledge (pengetahuan). Cara untuk meningkatkan ketiga hal tersebut yaitu untuk meningkatkan keahlian (skill) bisa dicapai melalui education (pendidikan) dalam hal ini adalah melalui jalur pendidikan formal, untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge) bisa dicapai melalui engineering (rekayasa/usaha pengembangan pola pikir) dalam hal ini melalui latihan-latihan, training, seminar, workshop, dan sebagainya. Untuk meningkatkan Sikap (attitude) bisa dicapai melalui enforcement (sanksi/ hukuman/ teguran.  Program sertifikasi akan mewujudkan profesionalitas guru yang bisa diukur dengan rupiah atau disebut Billing Rate Teacher.

Kata Kunci  : Profesionalitas, Diukur, Rupiah

A.    Latar Belakang

Dalam era globalisasi fungsi pendidikan sangat penting guna memajukan  kesejahteraan umum dan mencerdasakan kehidupan bangsa  seperti yang menjadi tujuan bangsa Indonesia  yang termuat dalam pembukaan Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Disamping itu  pemerintah juga berkewajiban untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang dituangkan kedalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Sistem pendidikan nasional dimaksudkan untuk meningkat- kan mutu pendidikan nasional. 
Peningkatan mutu pendidikan nasional bisa dicapai melalui sertifikasi guru. Program sertifikasi guru merupakan  penilaian kompetensi guru dalam hal ini adalah Attitude (Sikap), Skill (Keahlian), Knowledge (Pengetahuan).Ketiga hal tersebut merupakan indikator dari profesionalitas seorang guru. Beberapa hal untuk meningkatkan kompetensi seseorang guru yaitu :
a)      Untuk meningkatkan keahlian (skill) seorang guru bisa dicapai melalui education (pendidikan) dalam hal ini adalah melalui jalur pendidikan formal.
b)      Untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge) seorang guru bisa dicapai melalui engineering (rekayasa/usaha pengembangan pola pikir) dalam hal ini melalui latihan-latihan, training, seminar, workshop, dan sebagainya
c)      Untuk meningkatkan Sikap (attitude) seorang guru bisa dicapai melalui enforcement (sanksi/ hukuman/ teguran)
  
Diatas sudah disebutkan bahwa cara mengukur profesionalitas seorang guru adalah melalui program sertifikasi guru. Salah satu standar yang berkaitan langsung dengan keberhasilan penyeleng- garaan pendidikan adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya guru. Hal ini diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menetapkan delapan standar nasional pendidikan yang harus menjadi acuan sekaligus kriteria minimal dalam menetapkan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dimana undang-undang  tersebut  mengatur tentang adanya tunjangan khusus, tunjangan fungsional dan tunjangan profesi pendidik guna peningkatan kesejahteraan guru.
B.     Permasalahan
Fenomena atau isu yang muncul saat ini adalah akan dibubarkan Ditjen PMPTK yang khusus menangani program sertifikasi guru. Hal ini meyebabkan banyak protes dari guru-guru diseluruh Indonesia. Maraknya demo guru-guru dan tenaga pendidik yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia, yang menuntut dilanjutkannya program sertifikasi, pada tanggal 11 dan 12 Mei 2010 di Senanyan Jakarta, yang menuntut antara lain :
1.      Keberadaan Ditjen PMPTK tetap dipetahankan dengan atau tanpa memfusi kembali Ditjen Dikdas dan Ditjen Dikmen.
2.      Jika dengan menghidupkan kembali Ditjen PTMPK dan tetap mempertahankan Ditjen Dikdas dan Ditjen Dikmen dinilai bertentangan dengan SOTK (Sistem Organisasi dan Tata Kelola) yang diterbitkan oleh Kementerian Negara PAN (Pemberdayaan Aparatur Negara), dimana setiap kementerian (dahulu departemen) dibatasi memiliki tidak lebih dari 5 (lima) unit utama setingkat Eselon 1 sebagaimana dimaksudkan di atas, baik atas “kesadaran sendiri” dari Pemerintah atau Kemendiknas, maupun di bawah “tekanan organisasi guru dan pihak-pihak yang tidak setuju Ditjen PMPTK ditutup”, sebaiknya gagasan awal PGRI dihidupkan kembali. Gagasan itu adalah Pengelolaan Guru dilakukan oleh sebuah Badan tersendiri yang disebut dengan Badan Pengelola Guru atau apa pun namanya, yang bertangungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Di tingkat pusat disebut Badan Pengelola Guru Nasional dan di daerah disebut Badan Pengelola Guru Provinsi dan Badan Pengelola Guru Kabupaten atau Badan Pengelola Guru Kota. Badan ini merupakan “sentralisasi gaya baru” pengelolaan guru.
3.      Konsekuensi solusi No. 2 ini, pengelolaan guru dikeluarkan dari tugas pokok dan fungsi Kemendiknas dan Pemda di semua tingkatan. Hadirnya Badan Pengelola Guru dimaksud diyakini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan guru, sekaligus “mengeluarkan guru” dari aneka “cengkeraman atau anomali” birokrasi di daerah.
Sumber : http://www.pgri.or.id/berita-139-quo-vadis-penghapusan-ditjen-pmptkstrategi-marginalisasi-guru-dan-tenaga-kependidikan.html
Banyaknya sejumlah guru yang berusaha untuk mengikuti sertifikasi merupakan fenomena yang terjadi saat ini. Mereka yang sudah lulus sertifikasi ada yang langsung menerima sejumlah rupiah sebagai tambahan penghasilan antara lain  tunjangan khusus, tunjangan fungsional dan tunjangan profesi pendidik. Akan tetapi ada juga yang sudah dinyatakan lulus tetapi belum menerima rupiah yang diharapkan.
            Efek positif dengan adanya sertifikasi adalah memacu guru-guru untuk melanjutkan pendidikan sampai tingkat kriteria minimal yaitu S-1 atau D-4 seperti yang diharapkan dan disyaratkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini bertujuan agar profesionalitas seorang guru meningkat baik kemampuan bidang informasi dan tekhnologi maupun bidang pengetahuan lainnya karena tuntutan kemajuan dunia pendidikan.
Menurut Hartini Retnaningsih peneliti madya bidang studi kemasyarakatan (Pengkajian Dampak Sosial dan Evaluasi Program) di Pusat Pengkajian, Pengolahan Data, dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, Jakarta bahwa untuk penyelenggaraan pendidikan dengan kualitas yang memadai, UUD Negara Tahun 1945 dan UU N0. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengamanatkan ketentuan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN dan APBD. Pasal 31 Ayat (4) UUD Negara RI Tahun 1945 berbunyi:  “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menyebut ketentuan tentang anggaran 20 persen melalui Pasal 49 Ayat (1) yang berbunyi: “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
            Efek negatifnya adalah pemerintah harus menyediakan dana yang sangat besar guna keperluan pembayaran uang sertifikasi kepada guru-guru yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi, diluar 20% dari total anggaran sesuai dengan UU Sisdiknas No.20 tahun 2003. Dibutuhkan kurang lebih 196,5 trilyun rupiah setiap tahun, anggaran utuk membayar uang sertifikasi seluruh Indonesia. Efek yang lainnya adalah guru-guru akan selalu berhitung jumlah uang sertifikasi yang diharapkan akan diperoleh, dan yang lebih buruk lagi adalah apabila uang sertifikasi yang diharapkan belum diterima maka mengakibatkan motivasi dalam mengajar menjadi menurun.

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan fenomena yang terjadi saat ini, penulis akan mencoba mengupas apakah perlu profesionalitas seorang guru diukur dengan rupiah ?

D. Kajian Teori
Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, marilah kita mengkaji ulang, sebetulnya berapa beban biaya setiap guru dalam satu jam mengajar.
 Menurut Anwar (1991), Biaya Pendidikan dan Metode Penetapan Biaya Pendidikan”, Mimbar pendidikan, No. 1 Tahun X, 1991;28-33, Gaffar, M.F. (1991),“Konsep dan Filosofi Biaya Pendidikan”, Mimbar pendidikan, No. 1 Tahun X, 1991: 56-60 dan Thomas, J.A. (1971), “The Productive School: A System Analysis Approach to Educational Administration, New York: John Wiley & Sons,  ada beberapa kategori biaya pendidikan :
1)      Biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost)
2)      Biaya pribadi (private cost) dan biaya sosial (social cost). Biaya pribadi adalah biaya pengeluaran keluarga untuk pendidikan atau dikenal juga pengeluaran rumah tangga (household expenditure). Biaya sosial adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pendidikan, baik melalui sekolah maupun pajak yang dihimpun oleh pemerintah kemudian digunakan untuk membiayai pendidikan. Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah pada dasarnya termasuk biaya sosial.
3)      Biaya dalam bentuk uang (monetary cost) dan bukan uang (nonmoneterary cost). Hal tersebut dapat diinterpretasikan bahwa ternyata masyarakat ikut menanggung biaya pendidikan.
Pada artikel ini, penulis akan mengkaji kategori biaya pendidikan dari kategori yang pertama yaitu Direct Cost dan Indirect Cost. Ada beberapa indikator-indikator yang dapat digunakan dalam mengukur beban rupiah seorang guru per jam mengajar di sekolah. Kita sudah mengetahui bahwa dalam sebuah institusi pendidikan juga ada istilah COST atau Biaya yang terdiri dari Indirect Cost dan Direct Cost.
Indirect Cost adalah biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan dalam relevan range tertentu berjumlah tetap, sedangkan Direct Cost adalah biaya yang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan besarnya berubah secara proporsional terhadap perubahan aktivitas.
            Untuk lebih mempermudah dalam penghitungan beban biaya seorang guru kita perlu menghitung  tarif (rate) beban biaya guru atau penulis sebut saja Billing Rate Teacher. Ada beberapa variabel yang mempengaruhi Billing RateTeacher  yaitu Indirect Cost dan Direct Cost.
 Billing Rate Teacher bisa diperoleh dengan membandingkan antara beban biaya per guru yang termasuk dalam indirect cost dan direct cost dengan biaya gaji per guru. Adapun indikator-indiakator dari Indirect Cost adalah :
1.       Biaya Pegawai Manajemen Sekolah (Kepala Sekolah, Wakil dan Staf Pembantu dan Tata Usaha (TU) yang meliputi biaya gaji, PPh-21,  Astek/Jamsostek, Tunjangan lainnya dan biaya kesejahteraan (asuransi kesehatan dan penghargaan)
2.       Biaya rekrutmen pegawai dan guru
3.       Biaya abodemen listrik, telepon dan air
4.       Biaya kebutuhan rumah tangga (pantry) sekolah
5.       Biaya Pihak ketiga (Iuran MKKS, gugus dan lain-lain)
6.       Biaya promosi
7.       Biaya pemeliharaan gedung, perbaikan alat-alat lain
8.       Biaya PBB, asuransi bangunan, asuransi peralatan
9.       Biaya penyusutan gedung dan peralatan
Indikator-indiakator dari Direct Cost adalah :
10.    Biaya Pegawai Guru Sekolah (Tetap,honor,dan kontrak) yang meliputi biaya gaji, PPh-21,  Astek/Jamsostek, Tunjangan lainnya dan biaya kesejahteraan (asuransi kesehatan dan penghargaan)
11.    Biaya kegiatan belajar mengajar
a.       Biaya Remedial, pengayaan, EHB/UAN/UASBN
b.       Biaya MOS
c.        Biaya praktikum
d.       Biaya study banding/karyawisata
e.        Biaya Lomba Science, olympiade, KIR, dll
12.    Biaya penggunaan listrik, telp, dan air
13.    Biaya perlengkapan belajar :
a.       Alat tulis
b.       Seragam siswa
c.        Buku-buku paket/buku perpustakaan
d.       peralatan praktikum
e.        fotocopy
14.    Biaya konsumsi
Untuk menghitung beban biaya per guru per jam  adalah menjumlahkan semua indicator-indikator yang termasuk dalam  Indirect  Cost  dan  Direct Cost  selama satu tahun , kemudian dibagi dengan jumlah bulan dalam satu tahun ajaran kemudian hasilnya di bagi dengan jumlah guru dan dibagi lagi dengan jumlah jam mengajar guru dalam satu bulan.


            Sebagai ilustrasi penulis akan berikan contoh adalah sebagai berikut  :
Direct Cost selama tahun ajaran 2009/2010
a.       Biaya Pegawai                                                                     :               Rp 300.000.000
b.       Biaya Remedial, pengayaan, EHB/UAN/UASBN       :               Rp   10.000.000
c.       Biaya kegiatan belajar mengajar
v  Biaya MOS                                                                   :               Rp.    1.000.000
v  Biaya praktikum                                                         :               Rp.    5.000.000
v  Biaya study banding/karyawisata                           :               Rp.  10.000.000
v  Biaya Lomba Science, olympiade, KIR, dll           :               Rp.    1.000.000
d.       Biaya penggunaan listrik, telp, dan air                            :               Rp.  30.000.000
e.        Biaya perlengkapan belajar :          
Ø  Alat tulis                                                                        :               Rp.  10.000.000
Ø  Seragam siswa                                                             :               Rp.    5.000.000
Ø  Buku-buku paket/buku perpustakaan                   :               Rp.  10.000.000
Ø  peralatan praktikum                                                   :               Rp.  10.000.000
Ø  fotocopy                                                                       :               Rp.    5.000.000
f.         Biaya konsumsi                                                                   :               Rp.    5.000.000 (+)
Total Direct Cost selama Setahun                                      Rp. 402.000.000
Jadi beban biaya guru perbulan adalah Total Direct Cost  :  12  =  402.000.000
                                                                                                                  12
                                                                                                     =   33.500.000
Misalkan jumlah guru adalah 40 orang dan jam ngajar selama sebuan adalah 60 jam, maka Beban biaya per guru  per bulan  adalah               =   33.500.000   =  837.500
                                                                                              40
Beban biaya per guru  per jam adalah                         =   837.500   =  Rp 13.958
                                                                                             60

Untuk menghitung Billing Rate Teacher, kita harus menghitung seluruh biaya yang termasuk dalam indikator Indirect Cost dan Direct Cost, kemudian dibandingkan dengan jumlah biaya pegawai. Sebagai ilustrasi bahwa biaya (Indirect cost) selama setahun adalah 500 juta dan biaya (direct cost) sebesar 402juta, sedangkan biaya pegawai sebesar 300juta. Maka 
Billing Rate Teacher  =   1   :   Indirect cost + direct cost
                                                            Biaya Pegawai

Billing Rate Teacher    =   1   :    500 jt + 402jt
                                                          300jt
Billing Rate Teacher    =   1   :    3

Jadi beban biaya seorang guru dalam mengajar adalah 3 kali biaya gaji guru tersebut.


Dari ilustrasi diatas, kita bisa menghitung beban biaya yang dibutuhkan oleh seorang guru setiap jamnya untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.  Masing-masing institusi atau lembaga penyelenggara pendidikan, beban biayanya akan berbeda-beda. Kita ambil contoh beban biaya indirect cost untuk sekolah swasta yang bertaraf international akan lebih besar daripada sekolah negeri, karena gedung nya lebih luas,fasilitas sarana dan prasarana lebih lengkap dan modern dibandingkan sekolah negeri. Jika beban seorang guru bisa diukur dengan rupiah tentunya akan berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas seorang guru. Seharusnya guru-guru menyadari bahwa setiap jam yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dibutuhkan sejumlah biaya, oleh karena itu guru-guru harus lebih professional dalam memberikan dan mendidik siswanya guna tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum  dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

E.     Kesimpulan
1.      Program sertifikasi guru merupakan  penilaian kompetensi guru dalam hal ini adalah Attitude (Sikap), Skill (Keahlian),Knowledge(Pengetahuan).Ketiga hal tersebut merupakan indikator dari profesionalitas seorang guru
2.      Berdasarkan kategori biaya pendidikan, beban biaya seorang guru bisa dihitung dan diukur dengan rupiah, sehingga profesionalitas seorang guru juga perlu diukur dengan rupiah

3.      Billing rate juga bisa digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dari suatu institusi pendidikan



F.     Daftar Pustaka

Anwar. Biaya Pendidikan dan Metode Penetapan Biaya Pendidikan. Mimbar pendidikan, No. 1 Tahun X, 1991;28-33.
Gaffar, M.F. Konsep dan Filosofi Biaya Pendidikan.  Mimbar pendidikan, No. 1 Tahun X, 1991: 56-60.
Thomas, J.A. The Productive School : A System Analysis Approach to Educational Administration, New York: John Wiley & Sons.1971
Depdiknas RI, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Depdiknas RI, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
PGRI . Tutntutan PGRI terhadap Menteri Pendidikan Nasional, 2010







Penulis
Nama               :    Karsam,S.E.,M.Ak
Jabatan                        :    Dosen STKIP Kusuma Negara Pokjar Gading Serpong
Alamat                        :    Komp. RS.14 B.7 Sawah Baru Ciputat Tangerang Selatan
Telp                 :    021-7451908 / 0817 819 416
Alamat email   :    karsam@jayaschool.org / karsamse@yahoo.com
Pendidikan      :   S-2 Magister Akuntansi 
    Universitas Pancasila
»»  READMORE...